A. Latar Belakang

Heraclius, seorang filsuf Yunani pernah mengatakan bahwa yang tetap adalah perubahan. Maksudnya perubahan adalah sebuah keniscayaan, yang terus terjadi di setiap waktu di sepanjang zaman. Perubahan yang terjadi pun sudah pasti tidak dapat dihindari begitu saja, ada perubahan yang memberikan dampak positif dan ada perubahan yang membawa dampak negatif, dan keduanya sulit untuk ditebak. Sehingga manajemen perubahan menjadi sangat penting untuk diterapkan. Akan tetapi pada kenyataannya, proses perubahan itu tidak selalu mendapat respon yang positif  dari semua pihak.

Menurut Price Pritchett, pakar Change Management dari Pritchett & Associates Inc, pengelolaan perusahaan akan mengikuti rumus 20-50-30, artinya paling sedikir terdapat 20% anggota organisasi yang mendukung perubahan, 50% memilih “wait and see” sedangkan 30% lainnya akan menentang perubahan bahkan berusaha untuk menggagalkannya. Beberapa alasan mengapa mereka memilih kontra terhadap perubahan adalah rasa takut akan berkurangnya / hilangnya kekuasaan, kehilangan keterampilan, kegagalan kerja, menghadapi banyak masalah baru hingga takut kehilangan pekerjaan.

B. Rumusan Masalah

  • Mengapa pengelolaan perubahan meruapakan hal yang pentin bagi perusahaan ?

C. Teori dan Pembahasan

  • Perubahan

Banyak hal yang mendorong munculnya kebutuhan untuk melakukan perubahan. Pakar “Perilaku di Dalam Perusahaan”, Robert Kreitner dan Angelo Kinicki (2001) dalam bukunya Organizational Behavior, menyatakan bahwa ada dua kekuatan yang dapat mendorong munculnya kebutuhan untuk melakukan perubahan di dalam perusahaan, yaitu:

1. Kekuatan eksternal, yaitu kekuatan yang muncul dari luar perusahaan, seperti  karakteristik demografis (usia, pendidikan, tingkat keterampilan, jenis kelamin, imigrasi), perkembangan teknologi, perubahan-perubahan di pasar, tekanan-tekanan sosial dan politik.

2. Kekuatan internal, yaitu kekuatan yang muncul dari dalam perusahaan, seperti masalah-masalah / prospek pada Sumber Daya Manusia, perilaku dan keputusan manajemen.

Dalam manajemen perubahan, dikenal dua jenis perubahan, yaitu perubahan yang direncanakan dan perubahan yang dipaksakan. Perubahan yang pertama menunjukkan kesiapan perusahaan untuk berubah, sedangkan yang kedua, perusahaan “dipaksa” berubah dengan segala risiko yang harus dihadapi. Mengubah keadaan yang dirasakan sudah nyaman memang bukan suatu hal yang mudah dan menyenangkan. Pernah sebuah perusahaan otomotif terkemuka di Indonesia misalnya, terpaksa harus menjual asetnya sejumlah Rp 3 trilyun untuk melakukan restrukturisasi.

  • Manajemen perubahan

Di era globalisasi ini dengan teknologi informasi yang maju pesat, perubahan terjadi dengan cepat di segala lini. Selain itu, infomasi sangat banyak jumlahnya dan mudah  untuk diakses tanpa batasan ruang dan waktu oleh siapa saja. Perubahan itu sendiri terjadi terus menerus, di sepanjang waktu dan bersifat sangat dinamis lagi acak / sulit untuk ditebak. Agar dapat survive (bertahan), sustainable dan berkembang, perusahaan  perlu melakukan berbagai macam perubahan untuk berdaptasi dengan lingkungan eksternal maupun mempertimbangkan kondisi internal perusahaan. Perusahaan perlu menghitung manfaat dan biaya pada setiap jenis perubahan (cost benefit analysis).

Untuk mengelola perubahan itu, diperlukan manajemen perubahan atau juga sering disebut dengan change management, yaitu  proses mengidentifikasi jenis perubahan berdasarkan besarnya masalah dan ketersediaan waktu dalam eksekusi, meliputi evolutionary change (small and long), managerial intervention (small and short), sequential change (large and long), complex change (large and short).

Perusahaan pada umumnya lebih sering menggunakan sequential change.  Adapun keuntungan dari sequential change ini adalah :

1. terencana dan rasional

2. mengikuti tahapan dan metodologi

3. peluang untuk sukses tinggi dan risiko gagal rendah

4. keengganan berubah (resitance to change) dari pekerja dapat dikendalikan

5. perubahan yang bertahap dapat dicapai (incremental)

Namun kerugiannya tipe ini membutuhkan waktu yang lama, upaya harus dilakukan secara terus menerus, membutuhkan energi yang konstan (sulit tercapai jika ditengah proses ada perubahan manajemen), masa transisi dapat menurunkan semangat perubahan oleh pekerja, dan prosesnya dapat menimbulkan kebosanan pekerja.

D. Kesimpulan

Setelah dilakukan tinjauan teori dan pembahasan,  maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa change management (manajemen/pengelolaan perubahan) sangat dibutuhkan oleh perusahaan. Apabila change management tidak diterapkan, maka dapat diambil diperkirakan jika perusahaan itu tidak dapat bertahan dalam era global, dimana perubahan-perubahan terjadi dengan sangat cepat serta arus informasi mengalir sangat kuat dan mudah diakses tanpa batasan ruang dan waktu.

Referensi

Berger, Lance A., et al., “The Change Management Handbook : a Road Map to Corporate Transformation”, Irwin Profesional Publishing, 1994.

Estri Mahani, Septiana A. 2004. “ Change Management : Strategi Meraih Keunggulan Kompetitif”. Jurnal ilmiah RanggaGading, Vol 4 No. 2 : 1 – 6

Gayatri dkk. “Leadership dan Manajemen SDM: Strategi dan Praktek Terbaik sebagai Kunci Sukses Mengelola Bank.” Disampaikan pada workshop: 9-10 Desember 2011.

* Paper ini dibuat sebagai tugas Mata Kuliah Manajemen Industri di Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM

Tulis komentarmu di sini !