Kenapa kita beragama  ? Banyak alasan untuknya, salah satu jawaban yang paling sederhana adalah karena semua dari kita akan mati. Ya, semua makhluk yang bernyawa di dunia ini pasti akan mati. Pertanyaan selanjutnya adalah “Bagaimana kita setelah mati ? Kemana kita setelah mati ?” Ilmu sains jelas tidak bisa menjawab hal itu, dan yang jelas tidak ada orang di dunia ini yang pernah menceritakan pengalaman dia setelah ia mati. Jelas itu tidak mungkin! Satu-satunya yang bisa menjawab kemana kita setelah mati adalah konsep-konsep dalam agama, barangkali inilah asalan sederhana bagi kita untuk beragama. Selanjutnya, kenapa kita berislam ? Barangkali sebagian besar dari kita berislam karena keturunan, karena kita lahir dari ibu Islam  sehingga kita pun ikut-ikutan Islam. Tapi apakah itu yang menjadikan alasan kita untuk berislam ? Tentu tidak hanya sebatas itu..

Tiga pertanyaan mendasar bagi kita yang hidup di dunia adalah, dari mana kita, untuk apa kita dan kemanakah kita setelah hidup di dunia ini. Dari sinilah kita bisa yakin dan bangga atas keberislaman kita. Islam memberikan konsep yang jelas untuk memberikan jawaban atas ketiga pertanyaan mendasar tersebut. Dalam konsep Islam, manusia diciptakan oleh Allah SWT dari sari pati tanah yang kemudian menempel dalam rahim ibu yang kokoh, dari sari pati tanah itu kemudian menjadi segumpal darah, dari segumpal darah itu kemudian segumpal daging, dan pada akhirnya ditiupkanlah nyawa hingga lahirlah dari bayi dari rahim ibu (buka QS. Al-Mu’minuun : 12-14). Bayangkan saja, ribuan tahun yang lalu dimana tidak ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung untuk menjelaskan proses penciptaan manusia, Al-Quran telah menjelaskan secara gamblang.

Kemudian untuk apa kita hidup ? Dengan sangat jelas Islam menjabarkan tentang tujuan manusia ini hidup, yakni untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzaariyaat : 56) dan sebagai khalifah di muka bumi ini (QS. Al-Baqarah : 30). Sebagai perbandingan, peradaban Barat yang saat ini mencapai peradaban teratas dalam ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata belum mampu menjawab pertanyaan ini. Barat menganut paham eksistensialisme, yakni manusia itu diciptakan dan ada terlebih dahulu baru kemudian manusia itu menentukan tujuannya sendiri atas keberadaannya. Sehingga mereka menganggap bahwa kehidupan ini adalah sebuah tragedi. Tragedi besar karena mereka ada/diciptakan, tetapi mereka tidak tahu alasan mengapa mereka harus ada dan kemana mereka paska hidup di dunia ini. Dalam Islam, setelah manusia meninggal selanjutnya adalah ke alam barzakh (alam kubur), sebelum akhirnya semua manusia akan memasuki alam akhirat dan mempertanggung jawabkan amalan mereka selama hidup di dunia (Qs. Al-Mu’minuun : 15-16).

Sebagai petunjuk hidup, Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an yang merupakan rahmat bagi seluruh alam. Banyak fakta-fakta ilmiah yang baru mampu kita ungkap dengan teknologi abad ke-20-an, ternyata telah dinyatakan Al Qur’an sekitar 1400 tahun lalu. Sebut saja adalah fenomena terpisahnya air laut yang satu dengan yang lain. Dalam QS. Al-Furqaan : 53 disebutkan bahwa “Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” Dan masih banyak fakta-fakta yang lain, dan karenanya tidak sedikit dari para ilmuan non muslim yang akhirnya terketuk hatinya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat saat menjumpai fakta-fakta itu.

Selanjutnya, Islam memiliki figur yang bisa dijadikan sebagai tauladan bagi ummat manusia. Beliau adalah Nabi Muhammad SAW. Dalam buku “100 orang paling berpengaruh di dunia” karya Michael H. Hart, ia menjatuhkan urutan pertama pada Nabi Muhammad, meskipun dia bukanlah seorang muslim. Ia berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad-lah satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses luar biasa, baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawinya. Ia menuturkan jika Nabi Muhammad bukan semata pemimpin agama, tetapi juga pemimpin dunia. Fakta menunjukkan, selaku pendorong terhadap kepemiminan politiknya, beliau selalu berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.

Uraian di atas hanyalah sekelumit bagian dari penjelasan yang bisa dijadikan alasan mengapa kita mesti bangga sebagai seorang muslim. Maka dengan keyakinan dan kemantapan hati, mari kita teriakkan dengan lantang… “Saksikanlah Aku Seorang Muslim”.. Isyhadu bi anna muslimuun… Menjadi muslim yang prestatif dan bisa menjadi panutan bagi orang lain, mengapa tidak ?

Tulis komentarmu di sini !