Kawan ! Cinta akan terus didendangkan dari masyrik sampai maghrib. Cinta akan terus menjelma dalam keceriaan kanak-kanak hingga kebijakan oran tua. Sesuatu yang dibicarakan terus menerus pastilah sesuatu yang belum dipahami. Begitu pula cinta. Cinta selalu dibicarakan karna sesungguhnya kita belum memahaminya.

Cinta memang sulit dipahami. Sia-sialah engkau yang menghabiskan waktumu hanya untuk memahami cinta. Kalian menghabiskan waktu untuk memahami cinta laksana musafir yang berkelana seakan kalian telah pergi menemukan dunia baru, tapi setelah kalian sadari, engkau masih berdiri di tanah yang kau pijak saat berangkat. Begitulah cinta, ia tak dapat dipahami, hanya dapat dirasakan belaiannya dalam jiwa, hanya dapat dibayangkan dari pantulannya.

Cinta tak pernah menunjukkan dirinya. Ia hanya meninggalkan jejak langkah, hanya menyisakan tanda-tanda. Dan kita selalu berusaha menyusuri tapak-tapak cinta dengan harapan dapat menemukan jasadnya. Terus menerus kita mencari, dan saat kita menemukannya, kita sudah berada dalam dekapan sayap kematian, yang akan menerbangkan jiwa ini yang lelah mencari cinta. Sayap-sayap itu akan menerbangkan kita dalam alam ruh, untuk bertemu dengan cinta dan Sang Pemilik cinta.

Dalam peradaban yang serba statistik ini, cinta tak memperoleh ruang. Para pecinta menjelmakan diri sebagai juru dakwah, pengembala dan pengkhotbah. Mereka datang ke kampung-kampung yang kumuh, ke rumah-rumah pengungsi, ke pinggir sungai dan tempat-tempat yang jauh dari gemerlapnya dunia. Dengan suara sendu mereka bicara tentang cinta, pada orang-orang yang kelaparan, orang-orang yang hanya bisa menitikkan air mata, pada anak kecil yang matanya menata hampa, karena baginya masa depan adalah baying-bayang kegelapan. Di hadapan mereka para pecinta hanya bisa ikut merasakan penderitaan dan nestapa. Dan harta yang paling berharga dari pecinta adalah air mata.

Para penindas tak akan memiliki cinta, karena antara air embun yang sejuk dan menggairahkan tak bisa bertemu dengan minyak panas yang membakar. Cinta akan terus gelisah di hadapan penindas, cinta akan terus berteriak di depan penguasa dan penumpuk harta. Manusia adalah jiwa, bukan data dan angka. Jika engkau selalu bicara data dan angka padanya, sesungguhnya engkau sudah tidak memahami bahasa manusia, dan mereka yang tidak memahami bahasa manusia bukanlah manusia. Data dan angka adalah bahasa mesin, maka siapa yang selalu bicara dengan bahasa mesin, ia adalah mesin !

Seseorang tak pernah bisa memahami cinta sampai berlalu kesedihan, pertemuan, perpisahan, kesabaran yang pahit dan kerasnya penderitaan. Ia adalah sesuatu yang menghimpun kekuatan dengan kesabaran, tumbuh walau terhalang aral lintang, hangat di musim dingin, tumbuh dengan subur di musim semi, menciptakan angin sepoi-sepoi di musim panas dan menghasilakan buah di musim gugur.

Cinta akan membuat dirimu seringan awan, mensyukuri hari-hari yang pernuh berkah, sambil tertirah di siang terik, merenungkan pucuk-pucuk cinta. Dan ketika senja engkau pulang dengan penuh rasa syukur, lalu tidur dengan baluran doa untuk orang-orang tercinta.

Cinta dapat memahkotaimu dengan kemuliaan, tetapi ia juga dapat membuatmu menjadi hina dina. Ia dapat membunuh kuncup-kuncup bunga yang ada di hatimu, pun dapat pula mencerabut akarnya. Ia dapat menerbangkan dirimu ke tempat yang tinggi sembari membelai ranting-ranting jiwamu denga cahaya sang surya, begitu pula cinta mencengkeram akarmu dan mempermainakan hingga engkau rebah ke bumi.

Cinta adalah sebuah kata yang berasal dari cahaya…
Digoreskan dengan tangan cahaya…
Di atas kertas cahaya…
Hanya mereka yang tunduk pada Sang Pemilik cahaya…
Mereka mampu menyelami indahnya samudera cinta…
Yogyakarta, 9 Juli 2012 at 08.00 p.m
[Twitter : @ardianumam]

*Disarikan dari sebuah buku karya Khalil Gibran.

Tulis komentarmu di sini !