Dalam sejarah, Indonesia dibangun oleh para pemikir dan cendekiawan orde lama sebagai Negara Hukum[1]. Konsekuensinya adalah konsistensi terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan secara universal, baik itu adil dalam pembangunan nasional, penegakan hukum dan sebagainya termasuk penindakan terhadap para pelaku korupsi. Tetapi mengapa banyak fenomena yang terjadi di negri ini bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang universal tersebut ? Korupsi merajalela, masyarakat sekarang disuguhkan pada berita-berita korupsi pejabat pemerintah baik level pusat maupun daerah. Tindakan inkonsistensi orang-orang atas yang seharusnya menjadi teladan pun banyak yang ditemui.

Agaknya, politiklah yang sekarang menjadi panglima dalam setiap sendi kehidupan di negri ini, bukan lagi hukum. Hukum dari zaman ke zaman mulai mengalami ketumpulan. Hukum itu seakan tumpul ke atas dan runcing ke bawah. Banyak kaum proletar justru menjadi korban  sedangkan kaum elite di negri ini selalu berpikir pragmatis dalam menyelesaikan perkara yaitu dengan jalur politik, ketimbang jalur hukum. Tampaknya memang negara hukum itu sudah beralih menjadi negara politik, lebih tetapnya negera politik kekuasan hingga hukum pun yang bersikap mutlak dan pasti, dipolitisi untuk mendapatkan kekuasan itu.

Melihat kondisi Indonesia pasca reformasi, sama seperti kondisi di United Kingdom pasca perang saudara (civil war) yang terjadi pada tahun 1600-an. Selain para Penguasa yang bertindak semena-mena dengan manuver-manuver politiknya, sementara orang ‘sehat’ dan ‘sakit jiwa’ sama-sama bisa bicara sehingga kini Indonesia kehilangan figur keteladanan yang pada akhirnya negeri ini diliputi oleh gelombang skeptisisme massal. Jika saat itu United Kingdom memerlukan figur yang kuat seperi Oliver Cromwell sebagai Lord of Protector UK[2], maka siapakah yang bisa mengambil peran Lord of Protector di Indonesia dengan kondisi seperti saat ini ? Jawabannya adalah mahasiswa dan kaum muda lainnya yang seharusnya bisa mengambil peran tersebut, dengan segala disiplin ilmu dan integritas yang tertanam dalam dirinya maka Indonesia akan bangkit.

Dalam gerbang pintu masuk kota Andalusia tertulis bahwa untuk membangun sebuah peradaban gemilang, maka diperlukan empat komponen penyusunnya, meliputi: kebijakan para ilmuan, kearifan para penguasa, keberanian para kesatria dan doa orang-orang yang salih. Mahasiswa sebagai tulang punggung dan kaum intelektual bangsa, dalam konteks yang lebih luas sudah seharusnya bisa mengambil keempat peranan dalam membangun sebuah peradaban yang luhur tersebut. Dengan segala disiplin ilmu yang digeluti di dunia kampus maupun kemasyarakatannya, mahasiswa mampu menelurkan ilmu-ilmu tersebut dalam sebuah karya-karya nyata untuk membangun kesejahteraan ummat manusia. Ambil contoh adalah dengan program-program Community Development yang dikembangkan di masyarakat sekitar, misal dalam bidang produksi pertanian ataupun peternakan, mahasiswa bisa mengambil peran untuk memberikan inovasi-inovasi dan terobosan baru agar proses produski bisa mencapai hasil yang maksimal. Dan karena dengan ilmu-ilmu yang dimilikinya, mahasiswa sudah seharusnya mampu mengkonstruksi paradigma yang bijak. Dengan ilmunya mahasiswa dapat membedakan mana yang haq dan mana yang batil, dan bisa menyuarakannya ke lapisan masyarakat, sehingga iklim kearifan itu akan muncul dalam setiap sendi kehidupan. Sebagai intelectual community, mahasiswa memiliki posisi yang strategis dalam keterlibatannya melakukan rekayasa sosial menuju pada independensi masyarakat, baik dalam aspek ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Kebenaran dan keadilan adalah nilai-nilai universal, dan setiap manusia memiliki hati nurani yang senada dengan nilai-nilai tersebut. Keadilan akan mudah tercapai, kebenaran itu pasti akan menang dan integritas itu akan tertanam di setiap sanubari rakyat Indonesia asalkan nilai-nilai tersebut bisa disuarakan dan ditransparansikan. Sekali lagi, karena setiap manusia memiliki hati nurani yang senada dengan nilai-nilai luhur tersebut. Disuarakan yakni sebelumnya harus dibenamkan dalam diri pribadi kemudian disebarkan ke orang lain, sedangkan ditransparansikan dalam artian “tidak ada dusta diantara kita”. Maka inilah moral commitment mahasiswa. Mulai dari diri mahasiswa, mereka menggenggam erat nilai-nilai luhur tersebut. Kemudian dari sini mahasiswa belajar untuk menyuarakannya agar nilai-nilai tersebut bisa diterima oleh khalayak dan bisa ditransparansikan.

Dalam kehidupan kampus, mahasiswa mulai belajar untuk mengambil peranan kepemimpinan di berbagai sektor. Adanya semangat dan tekad yang membara serta didikan alam yang melahirkan insan-insan ideologis, akan menjadi aset penting bangsa yang nantinya akan menempati pos-pos kepemimpinan di negeri ini. Semangat dan ideologi yang kuat itu dimasa seakrang menjelma sebagai kekuatan untuk mmengontrol kebijakan-kebijakan publik yang ada, sehingga manakala ada kebijakan publik yang menyeleweng, mahasiswa dapat mengambil andil untuk mengklarifikasi dan mengusahakan adanya sebuah kebenaran dan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat. Karena mahasiswa adalah kesatria, yang mesti siap membela manakala ada hak-hak rakyat yang tertindas di negrinya.

Satu komponen penting terakhir yang bisa diambil oleh mahasiswa adalah doa orang-orang shaleh. Karena pada dasarnya manusia adalah khalifah yang telah Allah amanahkan untuk untuk menjaga agar bumi ini tetap lestari. Doa yang shaleh itu muncul dari barisan orang-orang yang beriman. Karena keimanan adalah dasar dari kekuatan, dan dari kekuatan itu akan menghasilkan sebuah kesungguhan. Dari kesungguhan itulah muncul titik-titik kesadaran akan perubahan. Sedangkan perubahan akan senantiasa terinspirasi dari ilmu pengetahuan guna mencapai sebuah kemenangan. Akan tetapi bukan selalu dari kemengangan itu akan didapatkan kemuliaan. Kemuliaan didapatkan dari keimanan penuh kesungguhan untuk menjadikan Allah sebagai tujuan dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai dasar perubahan. Sehingga, genaplah sudah. Mahasiswa memiliki ataupun sedang menuju untuk mengambil ke empat peran yang tertulis dalam gerbang pintu masuk Andalusia tersebut. Dan modal besarnya adalah keimanan dan ilmu pengetahuan.


[1] Indrayana, Denny. 2008. “Negeri Para Mafioso, Hukum di Sarang Koruptor”. Jakarta: Kompas (halaman 144)

[2] Basyarahil, azmi. 2010. at www.forumindonesiamuda.org.

* Essay ini ditulis sebagai salah satu kelengkapan administrasi pendaftaran beasiswa aktifis nusantara

Tulis komentarmu di sini !