Pojok Sastra

Utak-Atik (Chord Gitar) Ost. Habibie & Ainun

Saya termasuk orang yang sangat peka terhadap suara, peka terhadap lantunan nada-nada yang membentuk sebuah irama. Untuk menentukan nada dasar pada sebuah irama, untuk menentukan tinggi rendahnya suara, menentukan pas atau tidaknya, itu serahkan saja pada saya. Tetapi hanya sebatas menentukan lho ya! Kalau diminta membawakan suaranya, pikir-pikir dulu.. :-) Barangkali ini adalah anugerah dari-Nya, karena tak pernah sekalipun saya mengikuti semacam pelatihan olah suara, ataupun yang semacam lainnya. Tiba-tiba ‘sense’ nya muncul aja pas dengerin lantunan suara.

Tanggal 20 Desember 2012 kemarin, saya dan beberapa teman sejurusan saya nonton bareng Film “Habibie & Ainun”. Filmnya sangat menggugah dan inspiratif, karena memang alur ceritanya sangat kuat, yang diambil dari perjalanan hidup Pak Habibie. Tapi, saya tidak akan membahas tentang isi filmnya. Lalu apa? More >

My Only Wish

All your armies, all your fighters
All your tanks, and all your soldiers
Against a boy, holding a stone
Standing there, all alone

In his eyes, I see the sun
In his smile, I see the moon More >

Aku Menyayangimu….*

Aku menyayangimu karena kau manusia
Tapi kalau kau sewenang wenang kepada manusia
Aku akan menentangmu
Karena aku manusia

Aku menyayangimu karena kau manusia
Tapi kalau kau memerangi manusia
Aku akan mengutukmu
Karena aku manusia

More >

“Tentang Cinta, Ketulusan dan Kesunyian”*

Kawan ! Cinta akan terus didendangkan dari masyrik sampai maghrib. Cinta akan terus menjelma dalam keceriaan kanak-kanak hingga kebijakan oran tua. Sesuatu yang dibicarakan terus menerus pastilah sesuatu yang belum dipahami. Begitu pula cinta. Cinta selalu dibicarakan karna sesungguhnya kita belum memahaminya.

Cinta memang sulit dipahami. Sia-sialah engkau yang menghabiskan waktumu hanya untuk memahami cinta. Kalian menghabiskan waktu untuk memahami cinta laksana musafir yang berkelana seakan kalian telah pergi menemukan dunia baru, tapi setelah kalian sadari, engkau masih berdiri di tanah yang kau pijak saat berangkat. Begitulah cinta, ia tak dapat dipahami, hanya dapat dirasakan belaiannya dalam jiwa, hanya dapat dibayangkan dari pantulannya.

Cinta tak pernah menunjukkan dirinya. Ia hanya meninggalkan jejak langkah, hanya menyisakan tanda-tanda. Dan kita selalu berusaha menyusuri tapak-tapak cinta dengan harapan dapat menemukan jasadnya. Terus menerus kita mencari, dan saat kita menemukannya, kita sudah berada dalam dekapan sayap kematian, yang akan menerbangkan jiwa ini yang lelah mencari cinta. Sayap-sayap itu akan menerbangkan kita dalam alam ruh, untuk bertemu dengan cinta dan Sang Pemilik cinta.

More >

“Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana?”*

Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku harus merdeka, tapi kau memilihkan untukku segalanya…
Kau suruh aku berfikir, aku berfikir kau tuduh aku amatir…
Aku harus  bagaimana?
Kau suruh aku mengkontekskan Qur’an, aku buka tafsir kau bilang itu tidak relevan…
Kau sebut dirimu cendikiawan, kau sendiri menafsirkan firman sembarangan…

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memaknai hadits, aku pake sanad kau bilang fundamentalis..
Kau suruh aku bersikap kritis, aku kritis kau anggap opportunis…
Aku harus bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku..
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan..
More >

“Tentang Optimisme dan Kesederhanaan”

Ekspektasi yang terlalu tinggi cenderung hanya menyakitkan hati...
Karna kenyataan hampir tak pernah sesuai dengan harapan….
Jika ia terus terulang,
pesimisme-lah yang akan mengembang menjulang….

Opimisme itu terletak pada kesederhanaan…
Sedangkan kesederhanaan slalu dimulai dari berpikir sederhana…
Maka, dalam kesederhanaan berpikir-lah optimisme itu ada…

Berpikir sederhana bukan berarti punya mimpi yang sifatnya ringkih…
Berpikir sederhana bukan berarti tak mau berpikir lebih…
Berpikir sederhana juga bukan berarti tak pernah berpikir letih…
More >

“Kerendahan Hati”

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan

More >

Antara Aku, Mimpi dan Indonesiaku

|| Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi || Fiksi ||

Aku adalah seorang mahasiswa Teknik Elektro UGM angkatan 2009. Siang itu, suasana mendung menyelimuti langit-langit UGM. Hembusan angin yang membawa butiran air hujan sangat kecil mengenai orang-orang yang duduk di emperan Musholla Teknik UGM, membuat suasana menjadi dingin di tengah hangatnya kebersamaan. Disana tampak orang-orang duduk melingkar didampingi oleh salah seorang senior yang menyampaikan sebuah materi dengan senyum ikhlas yang menghiasasi raut wajah kepada muka-muka ceria maba 2010.. Ya.. Itulah kegiatan Asistensi Agama Islam. Ada pula diantara mereka yang berbincang tentang pemilu teknik dimana tepat pada hari itu merupakan hari resmi kampanye untuk calon-calon presiden BEM FT UGM.

Dibawah tangga mushtek, aku berjumpa dengan teman-teman, kulakukan hakku untuk menebar salam, mendoakan keselamatan bagi mereka. Begitu pula mereka jawab dengan kalimat doa keselamatan tercurah untukku. Kamipun mulai berbincang-bincang, dari tugas praktikum yang belum terselesaikan sampai kegiatan aktual yang ada di teknik. Sejurus kemudian, suara kecil muncul dari getaran HP, menelisik ke syaraf telinga kami. Aku menhela nafas, kemudian mengambilnya. Terlihat di layar kecil kusam berukuran 3×5 cm nomor ”+6272XXXXX” melakukan panggilan ke Hpku. Ku tekan tombol hijau dan mulailah percakapan diantara kami. Terdengar bunyi dengan rentang frekuensi 700-800 Hz (red:ngawur) yang tak lain itu adalah frekuensi suara seorang wanita, sesuai yang di ajarkan di mata kuliah Telekomunikasi Dasar semester lalu. More >