Gagasan Penulis

Organisasi Pembelajar, Bentuk Ideal di Era Informasi*

A. Latar Belakang

Saat ini, globalisasi telah terjadi di berbagai bidang. Globalisasi itu sendiri dalam KBBI diartikan sebagai proses masuknya ke ruang lingkup dunia. Sehingga sekat-sekat antar wilayah atau negara sudah tidak berarti lagi dalam aktivitas kehidupan manusia di dunia. Katakanlah globalisasi dalam bidang budaya, betapa banyak budaya-budaya lokal yang sekarang tersebar luas di berbagai negara dan menjadi familiar di kalangan warga dunia, seperti contohnya adalah boy band korea. Globalisasi dalam industri pun juga tidak terelakkan lagi, misalnya banyak industri yang telah melakukan kegiatan ekspor-impor. Dengan adanya globalisasi ini, maka tingkat persaingan pun semakin tinggi, yang mendorong perubahan-perubahan itu terjadi sangat cepat di segala bidang.

Globalisasi ini semakin marak dengan adanya teknologi informasi yang berkembang pesat. Tidak ada lagi batasan wilayah dan waktu, siapa saja bisa saling berinteraksi ataupun sekedar mencari informasi di berbagai belahan dunia. Perubahan teknologi, sistem informasi dan komunikasi, telah mengubah cara dan kecepatan berbisnis serta inovasi berbagai produk maupun jasa. Pola transaksi mengarah ke kecepatan, keamanan, dan kenyamanan dengan melalui berbagai saluran elektronik. Selain itu di era informasi seperti ini, perubahan dan perkembangan lingkungan begitu mudah untuk diakses. Siapa yang lebih cepat mendapatkan informasi  dan mengambil tindakan tepat atas informasi tersebut, maka dialah yang akan tampil sebagai pemenang. Dengan kondisi yang demikian, maka suatu organisasi harus bisa menemukan bentuk baru yang ideal, agar organisasi tersebut bisa survive dan bisa berkompetisi dengan yang lain.

More >

Mengapa kita bangga sebagai Muslim ?

Kenapa kita beragama  ? Banyak alasan untuknya, salah satu jawaban yang paling sederhana adalah karena semua dari kita akan mati. Ya, semua makhluk yang bernyawa di dunia ini pasti akan mati. Pertanyaan selanjutnya adalah “Bagaimana kita setelah mati ? Kemana kita setelah mati ?” Ilmu sains jelas tidak bisa menjawab hal itu, dan yang jelas tidak ada orang di dunia ini yang pernah menceritakan pengalaman dia setelah ia mati. Jelas itu tidak mungkin! Satu-satunya yang bisa menjawab kemana kita setelah mati adalah konsep-konsep dalam agama, barangkali inilah asalan sederhana bagi kita untuk beragama. Selanjutnya, kenapa kita berislam ? Barangkali sebagian besar dari kita berislam karena keturunan, karena kita lahir dari ibu Islam  sehingga kita pun ikut-ikutan Islam. Tapi apakah itu yang menjadikan alasan kita untuk berislam ? Tentu tidak hanya sebatas itu.. More >

“Problematika Ummat dan Upaya Merajut Kembali Benang-benang Peradaban Islam”

Semenjak kedatangan Rasulullah SAW di Makkah, cahaya Islam hadir di tengah-tengah gelapnya masyarakat karena kejahiliyahannya. Islam datang membawa kabar gembira dan seruan pembebasan terhadap segala praktik kejahiliyahan tersebut. Meskipun pada awalnya terjadi penolakan yang begitu luar biasa, akan tetapi Islam semakin menampakkan kegemilangannya dalam membangun entitas ummat. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pun yang kemudian masuk ke masa Kekhalifahan, Islam semakin berkembang pesat baik dari segi perluasan wilayah hingga ajaran-ajarannya. Begitupun setelah zaman kekhalifahan yang diteruskan oleh Dinasti Ummayah dan Dinasti Abbasiyah.

Kita bisa menengok sejawah bahwa pada masa Dinasti Abbasyiah Islam mencapai puncak kejayaan. Baghdad yang saat itu dijadikan sebagai ibu kotanya menjadi pusat Peradaban dunia. Kota yang indah dan terang dengan segala produk peradabannya, sedangkan di belahan Eropa, dunia masih terasa gelap karena Eropa pada masa itu sedang berada dalam masa kegelapan “The Dark Age”.

More >

Peran dan Tanggung Jawab Sosial Mahasiswa*

Dalam sejarah, Indonesia dibangun oleh para pemikir dan cendekiawan orde lama sebagai Negara Hukum[1]. Konsekuensinya adalah konsistensi terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan secara universal, baik itu adil dalam pembangunan nasional, penegakan hukum dan sebagainya termasuk penindakan terhadap para pelaku korupsi. Tetapi mengapa banyak fenomena yang terjadi di negri ini bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang universal tersebut ? Korupsi merajalela, masyarakat sekarang disuguhkan pada berita-berita korupsi pejabat pemerintah baik level pusat maupun daerah. Tindakan inkonsistensi orang-orang atas yang seharusnya menjadi teladan pun banyak yang ditemui.

Agaknya, politiklah yang sekarang menjadi panglima dalam setiap sendi kehidupan di negri ini, bukan lagi hukum. Hukum dari zaman ke zaman mulai mengalami ketumpulan. Hukum itu seakan tumpul ke atas dan runcing ke bawah. Banyak kaum proletar justru menjadi korban  sedangkan kaum elite di negri ini selalu berpikir pragmatis dalam menyelesaikan perkara yaitu dengan jalur politik, ketimbang jalur hukum. Tampaknya memang negara hukum itu sudah beralih menjadi negara politik, lebih tetapnya negera politik kekuasan hingga hukum pun yang bersikap mutlak dan pasti, dipolitisi untuk mendapatkan kekuasan itu.

More >

“Dengan Apa Kita Memandang Kehidupan?”

Terkadang, kita mesti menggunakan hati untuk memaknai setiap fenomena yang terjadi di sekeliling kita. Terkadang kita mesti menggunakan hati untuk memaknai kehidupan ini, untuk mempelajari pesan-pesan Tuhan, baik dalam bentuk ciptaan-Nya maupun firman-firman-Nya yang termaktub dalam kitab. Rasanya rasionalitas saja tidak cukup. Karena kita adalah makhluk dan karena Tuhan adalah Khalik. Karena kita adalah ciptaan sedangkan Tuhan adalah yang menciptakan segalanya. Tentunya beda antara Tuhan dan ciptaannya. Tuhan mengetahui apa yang kita ketahui dan Tuhan juga mengetahui apa yang kita tidak ketahui. Tuhan Maha Mengetahui segalanya, karena Tuhanlah Pencipta segalanya.

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna, tetapi dalam kesempurnaan makhluk ada ketidaksempurnaan. Kita tidak bisa melihat apa yang ada dibalik dinding, sehingga kita harus berpindah ke balik dinding untuk melihat sesuatu. Dengan rasional yang kita miliki, kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi dihari esok. Yang bisa kita lakukan hanyalah menduga, melakukan perhitungan, mengusahakan ataupun berharap-harap. Rasanya memang rasionalitas saja tidak cukup, perlu adanya tambahan dimensi lain untuk memahami setiap fenomena dalam hidup ini.

More >

Inikah Perang Dunia Selanjutnya ?

Masih membekas dalam benak kita betapa perihnya tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah dunia. Perang Dunia II yang berlangsung tahun 1939-1945 dimana melibatkan lebih dari 100 juta personel berakhir dengan Sekutu sebagai pemenang secara militer, sedangkan perang politik dan ideologi masih terus berlanjut ke dalam arena baru, yang dinamakan dengan Perang Dingin, yakni antara Blok Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat dengan Blok Timur di bawah Uni Soviet[1]. Blok Barat membawa ideologi liberalis-kapitalis sedangkan Blok Timur membawa ideologi sosialis-komunis. Pada tahun 1980-an, Amerika Serikat unggul atas Uni Soviet, hingga pada akhirnya pada tahun 1991 Perang Dingin selesai dengan ditandai runtuhnya idelogi komunisme[2]. Inilah yang dinamakan dengan fenomena dominasi, yakni dua kekuatan besar dunia akan saling berbentur hingga pada akhirnya munculah satu kekuatan sebagai pemenang.

More >

Mengupas Sistem Pendidikan Jepang dalam Pembangunan Karakter Bangsanya*

Education is simply the soul of a society as it passes from one generation to another.

(Gilbert K. Chestron)

Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih dalam, setidaknya ada dua pemahaman di Jepang yang digunakan untuk merubah tatanan pendidikan sebagai salah satu pembentuk karakter bangsa, karena dalam konteks ini karakter bangsa bisa dibentuk bukan hanya melalui pendidikan saja, tetapi salah satunya adalah pendidikan itu. Pertama, adalah pemahaman radikal yang meyakini bahwa perubahan pendidikan hanya bisa dilakukan dengan cara perombakan secara simultan. Kedua adalah pemahaman konservatif yang meyakini bahwa perubahan pendidikan hanya bisa dilakukan dengan ikut serta dalam sistem yang ada sekarang. More >

Duhai Negriku, Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana..

Dalam sejarah, Indonesia dibangun oleh para pemikir dan cendekiawan orde lama sebagai Negara Hukum. Konsekuensinya adalah konsistensi terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan secara universal, baik itu adil dalam pembangunan nasional, penegakan hukum dan sebagainya termasuk penindakan terhadap para pelaku korupsi. Tetapi mengapa banyak fenomena yang terjadi di negri ini bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang universal tersebut ? Korupsi merajalela, masyarakat sekarang disuguhkan pada berita-berita korupsi pejabat pemerintah baik level pusat maupun daerah. Tindakan inkonsistensi orang-orang atas yang seharusnya menjadi teladan pun banyak yang ditemui.

More >