Serial Pemikiran Tokoh

Islam: Faham Agama dan Asas Akhlak*

A. Hakikat Din

Perkataan din berasal dari akar kata DYN dalam bahasa Arab yang memiliki banyak permaknaan yang walaupun sepertinya bertentangan satu sama lain, namun sebenarnya memiliki hubungan secara konseptual, maka keseluruhan makna tersebut membentuk suatu kesatuan makna yang tidak terpisahkan.

Makna-makna utma dalam kata din disimpulkan menjadi empat:

1. Keadaan Berhutang

Kata kerja dana yang berasal dari kata din memberi makna keadaan berhutang , termasuk makna makna lain yang berkaitan dengan hutang,yang sebagiannya bertolak belakang. Pada keadaan seseorang berhutang , dengan kata lain seorang da’in, ia semestinya menundukkan dirinya , yaitu berada dalam keadaan berserah dan taat kepada hukum dan aturan dalam berhutang, dan dalam keadaan tertentu juga terhadap pemberi hutang yang juga dipanggil sebagai da’in. Dalam pengertian ini juga ia membawa maksud seseorang yang dalam keadaan berhutang berarti mempunyai suatu kewajiban atau dayn, yang secara tabiinya berkaitan dengan sutu penghakiman atau daynunah dan pemberian hukuman atau idanah mengikuti keadaan tertentu.

Bagaimana konsep keberhutangan atau dalam keadaan berhutang dapat dijelaskan dalam konteks spiritual dan keagamaan? lalu apa yang dimaksud dengan hutang itu? Kepada siapa kita berhutang?

More >

Injustice(ketidakadilan): Because He is a Muslim*

*By Nayzak (http://nayzak.deviantart.com/)

Al-Qur’an dan Tantangan Modernitas*

Abbas Mahmud Al-‘Aqqad dalam karyanya Al-Insan fi ‘l-Qur;an ‘l-Kamrim memperkirakan bahwa semua aliran pemikiran dan ideologi ciptaan manusia akan larut bersama larutnya abad ke-20 ini, sedangkan pesan-pesan yang ditimba dari Al-Qur’an akan tetap bertahan (‘Abbas Mahmud Al-‘Aqqad, 1973) menghadapi bantingan dan tantangan zaman. Kita tidaklah dapat mengatakan dengan pasti bahwa perkiraan Al-‘Aqqad ini akan benar-benar menjadi kenyataan sejarah pada permulaan abad yang akan datang, tapi bahwa dunia kini sedang mencari pergantungan spiritual yang kokoh, yang tidak lagi diombang-ambingkan oleh tarikan gelombang materialisme-ateisme yang kasar dan ganas, mungkin dapat kita sepakati.

Persoalan lebih jauh adalah: apakah dunia pada akhirnya akan melirik kepada Al-Qur’an sebagai sumber sejati dari pergantungan spiritual itu, kita pun sulit menjawabnya, bila kenyataan sosiologis umat ini masih seperti yang kita saksikan sekarang ini. Umat Islam yang mengaku mengimani Al-Qur’an, tapi mayoritas mereka tinggal di Dunia Ketiga dengan segala keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan itu tampaknya masih terlalu jauh untuk dapat ditampilkan sebagai pencipta dan pembawa obor peradaban yang segar yang mungkin menjadi alternatif bagi umat manusia. More >

Dunia Duga

Banyak yang tidak kita tahu. Tapi sangat banyak yang kita duga. Sebab menjadi tahu lebih sulit dari sekadar menduga. Sebab menjadi berpengetahuan lebih berat dari menjadi penumpuk dugaan. Pengetahuan sangat berbeda dengan dugaan. Hakikatnya beda. Strukturnya beda. Fakta-nya beda. Pengetahuan memberi asupan pada nalar kita. Dugaan menyuplai emosi egois kita. Pengetahuan cenderung mengarahkan. Dugaan cenderung menjerumuskan. More >

Sebuah Studi-Analisis: Mempertanyakan Orientasi World Class University*

Pendahuluan

Beberapa tahun terakhir ini, kampus-kampus negeri maupun swasta heboh berupaya untuk menjadi universitas kelas dunia atau world class university (WCU). Bahkan dapat dikatakan semua kampus di Indonesia telah berorientasi untuk menjadi universitas kelas dunia. Kehebohan tersebut makin menjadi-jadi ketika pemerintah telah mengalokasikan anggaran bagi kampus-kampus tertentu agar mereka dapat segera menjadi universitas kelas dunia.

Dalam hal ini, Dirjen Dikti menyatakan mendukung penuh perguruan tinggi agar dapat menjadi berkelas internasional. Pada tahun 2009 dinyatakan 17 perguruan tinggi akan sepenuhnya dibantu oleh pemerintah, terutama perguruan tinggi terkemuka di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, dan lainnya. Fasli Jalal ketika masih di Dirjen Dikti waktu itu mencontohkan UGM yang mendapat 70 miliar untuk mendukung program menuju world class university (Kompas, 20/05/09). More >

Enam Alasan untuk Tidak Mendirikan Parpol Islam*

Ada cukup cahaya bagi orang yang melihat.

Sayidina ‘Ali, Nahjul Balaghah.

Mula-mula Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membentuk sebuah panitia pendiri “Partai NU” (hasilnya ialah Partai Kebangkitan Umat), kemudian Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) merekomendasikan berdirinya sebuah parpol Islam (kelanjutan rekomendasi itu ialah berdirinya BKUI (Badan Koordinasi Umat Islam) yang akan menjadikan Kongres Umat Islam dan yang terakhir Sidang Tanwir Muhammadiyah di Semarang 5-7 Juli 1998 berijtihad politik untuk mendirikan parpol islam (pribadi warga Muhammadiyahnya, Kedaulatan Rakyat, 8 Juli 1998). Dan masih banyak lagi. More >